Meredam Marah Untuk Kebaikan Bersama

 

Kemarahan (anger) adalah suatu rentang emosi mulai dari tersinggung sampai agresif yang dialami oleh semua orang. Biasanya, kemarahan adalah reaksi terhadap stimulus yang tidak menyenangkan dan mengancam. Marah bisa disebut juga dengan perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman.

Berdasarkan studi dari Player et al. (2007), marah pada laki-laki usia dewasa tengah dengan pre-hipertensi berhubungan dengan kejadian hipertensi dan insiden penyakit jantung coroner. Stress yang lama juga berhubungan dengan peningkatan resiko penyakit jantung coroner baik pada pria dan wanita. Marah yang dimaksud dalam studi diatas merupakan marah yang tidak baik atau tidak assertif. Ternyata marah  ada yang baik dan juga tidak ya, lalu marah yang baik itu yang bagaimana ya?

Jadi respon marah ada 5 macam yaitu:

  1. Assertion adalah kemarahan atau rasa tidak setuju yang dinyatakan atau diungkapkan tanpa menyakiti orang lain. Respon marah ini akan memberi kelegaan pada individu dan tidak akan menimbulkan masalah.
  2. Frustasiadalah respons yang terjadi akibat gagal mencapai tujuan karena tidak realistis atau hambatan dalam proses pencapaian tujuan. Dalam keadaan ini tidak ditemukan alternatif lain. Selanjutnya individu merasa tidak mampu mengungkapkan perasaan dan terlihat pasif.
  3. Pasifadalah individu tidak mampu mengungkapkan perasaannya, klien tampak pemalu, pendiam, sulit diajak bicara karena rendah diri dan merasa kurang mampu.
  4. Agresifadalah perilaku yang menyertai marah dan merupakan dorongan untuk bertindak dalam bentuk destruktif dan masih terkontrol. Perilaku yang tampak dapat berupa : muka masam, bicara kasar, menuntut, kasar disertai kekerasan.
  5. Ngamukadalah perasaan marah dan bermusuhan kuat disertai kehilangan kontrol diri. Individu dapat merusak diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.

Kemarahan berdasarkan cara pengekspresiannya dibagi menjadi 2, yaitu kemarahan yang dipendam (expressed inward) dan kemarahan yang diekspresikan keluar (expressed outward). Tipe expressed outwarddiklasifikasikan menjadi 2, yaitu expressed outward dengan kegiatan konstruktif yang dapat menyelesaikan masalah dan expressed outward dengan kegiatan destruktif yang dapat menimbulkan perasaan bersalah dan menyesal.

Ada tiga cara agar marah yang diekspresikan tidak menjadi kegiatan destruktif kemudian menimbulkan perasaan bersalah atau menyesal yaitu :

  1. Cara fisik, ketika perasaan marah muncul, ambil nafas dalam-dalam lalu hembuskan hingga beberapa kali sampai perasaan jengkel dan kesal berkurang. Ketika perasaan marah muncul sewaktu berdiri dan nafas dalam tidak mempan meredamnya, segeralah duduk dan lanjutkan nafas dalam. Bila perasaan jengkel tersebut masih ada, untuk sementara jauhi situasi yang menyebabkan marah. Setelah marah itu reda baru ungkapkanlah apa yang menyebabkan anda marah terhadap seseorang.
  2. Cara sosial, kejengkelan yang dirasakan bisa anda curahkan kepada sahabat, teman, atau keluarga. Selain memberikan rasa lega karena telah berbagi permasalahan kepada orang lain, Anda juga bisa mendapatkan saran dari yang mendengarkan cerita Anda tentang apa yang sebaikknya Anda lakukan. Untuk yang ini pilihlah orang yang Anda percayai.
  3. Cara yang ketika adalah dengan cara spiritual, bagi yang beragama Islam, Anda bisa istighfar, mengambil air wuldu, membaca Al-Qur’an, mengerjakan shalat, dan berdzikir kepada Allah. Setiap agama pasti mengajarkan kita cara untuk meredam emosi agar tidak melukai diri sendiri dan orang lain.

Marah adalah bagian anugrah karena marahlah kita akan belajar memahami keberadaan orang-orang disekitar kita dan memperlakukan mereka dengan cara baik agar kita juga diperlakukan secara layak. Kita tidak akan pernah memimpikan kebahagiaan sebelum kita bisa membedakan bahagia dan kecewa dan merasakan keduanya. SALAM SEHAT !! (Mutik DD27)

 

_PIK-M UKESMA UGM_

 

Referensi :

Marty S. Player, Dana E. King, Arch G. Mainous III, Mark E. GeeseyPsychosocial Factors And Progressionfrom Prehypertension To Hypertensionor Coronary Heart Disease. Annals Of Family Medicine Vol. 5, No. 5 September/October 2007.

Yosep, I., 2010. Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama.

Rasmun.2001. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan Keluarga, Untuk Perawat Dan Mahasiswa Keperawatan. Jakarta:PT. Fajar Interpratama.

 

Juni 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *