Penggunaan Kompres Es pada Cedera

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu tak lepas dari sebuah kecelakaan, entah sebagai saksi maupun korban. Kecelakaan tersebut dapat menyebabkan cedera atau luka mulai dari ringan hingga berat. Salah satu cedera yang sering dijumpai adalah bengkak. Bengkak merupakan suatu kondisi dimana terjadinya penumpukan cairan dalam tubuh. Pada kasus kecelakaan, biasanya bengkak dapat terjadi akibat benturan yang mengakibatkan pelebaran pembuluh darah sehingga menyebabkan penumpukan darah pada pembuluh yang melebar tersebut. Bengkak dapat ditangani dengan berbagai cara. Dalam dunia medis, kita biasanya menggunakan metode RICE, yaitu:

Rest, istirahatkan bagian yang cedera. Hal ini sering disalahgunakan sebagai kesempatan bermalas-malasan melakukan segala sesuatu dengan mengistirahatkan seluruh bagian tubuh. Rest yang dimaksud adalah mengistirahatkan bagian yang cedera bukan seluruh badan.

Ice, melakukan kompres es pada bagian yang cedera. Terapi dingin dilakukan dengan tujuan mengurangi bengkak dan meredakan rasa nyeri.

Compression, melakukan bending dengan menggunakan pembalut elastis. Penekanan atau balut tekan berguna untuk mengurangi pembengkakan jaringan dan pendarahan lebihlanjut.

Elevation, tinggikan bagian yang cedera dari posisi jantung agar dapat nutrisi dan darah berjalan dengan lancar.

Nah, kali ini kita akan membahas tentang penggunaan kompres es pada penanganan cedera bengkak. Tapi sebelumnya, mari kita telaah terlebih dahulu penggunaan kompres dalam kehidupan sehari-hari.

Kompres sering kali kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat kita mengalami demam atau cedera. Namun, masih banyak diantara kita yang keliru penggunaan kompres dingin dan panas.

Kompres dingin/terapi dingin dilakukan karena memiliki fungsi untuk menyempitkan pembuluh darah sehingga mencegah pengumpulan darah di area cedera, mengurangi pembengkakan dan rasa nyeri. Oleh karenanya digunakan untuk pertolongan pertama pada cedera seperti keseleo, memar.

Sedangkan kompres panas berfungsi untuk melebarkan pembuluh darah agar aliran darah dapat berjalan lancar. Kompres panas seringkali digunakan untuk menurunkan demam karena dengan menambah suhu panas pada kepala akan membuat pengatur suhu tubuh (thermoregulator) bekerja dengan menurunkan suhu tubuh untuk mengimbanginya.

Tetapi masih banyak orang di sekitar kita yang melakukan kompres es pada kondisi demam. Jika pada kondisi demam diberikan kompres dingin, maka pengatur suhu tubuh (thermoregulator) kita akan menaikan suhu tubuh sehingga suhu tubuh akan semakin naik, bukan turun. Oleh sebab itu bila kondisi demam dikompres dengan air dingin, yang terjadi bukannya suhu tubuh menurun malah suhu tubuh kita akan semakin tinggi.

 

Lalu, bagaimana cara melakukan kompres es pada cedera?

  • Gunakan kain sebagai perantara es ke bagian yang cedera. Meletakkan es batu langsung pada kulit dapat mengganggu sistem saraf yang ada pada kulit.
  • Kompres es dilakukan pada golden period (48 jam) setelah terjadi cedera
  • Bisa dilakukan beberapa kali sesuai dengan kubutuhan, umumnya dilakukan 4-8 kali dalam sehari
  • Sekali kompres dilakukan kurang dari 20 menit, disarankan 10-15 menit agar bagian cedera tetap mendapat aliran darah. Jika dilakukan lebih dari 20 menit, dapat berakibat mematikan jaringan.
  • Antar kompres dilakukan dengan jeda 10-30 menit
  • Segera dirujuk ke dokter untuk penanganan lebih lanjut, agar dapat diketahui bahwa cedera tersebut hanya kesleo biasa atau cedera lainnya yang harus mendapat penanganan khusus.
  • Jika tidak dibawa ke dokter dan telah melewati masa golden period, pada bagian cedera terlihat kembali ke keadaan semula (tidak bengkak) maka dapat melakukan kompres hangat atau berendam dalam air hangat. Kompres hangat berguna untuk membuka pembuluh darah sehingga memperlancar aliran darah seperti semula. Saat kondisi cedera bengkak, tidak boleh dikompres air hangat. Karena saat kondisi bengkak pembuluh darah melebar, jika dikompres panas, pembuluh darah akan semakin lebar dan aliran darah semakin deras maka akan memperparah kondisi.
  • Setelah dikompres, bagian cedera diistirahatkan setidaknya selama 24 jam

Catatan:

  • Jika luka terbuka, jangan diberi kompres hangat karena bagian tersebut sudah tidak ada sirkulasi, tetapi memakai NaCl.
  • Kompres es tidak selalu manjur untuk setiap orang karena tergantung imun tubuh yang dimiliki perorangan
  • Metode kompres es hanya sebagai pertolongan pertama bukan cara untuk penyembuhan, maka tetap harus dirujuk ke dokter agar mendapat penanganan dan pengobatan lebih lanjut

 

Penggunaan kompres es pada penanganan cedera bengkak hingga saat ini masih menjadi andalan dan memang cukup efektif untuk meredakan nyeri. Namun demikian, kompres es bukanlah sebagai penyembuhan, melainkan hanya tindakan pertolongan pertama saja. Beberapa waktu lalu kami menemukan artikel yang kurang lebih membahas tentang bahayanya penggunaan kompres es pada cedera bengkak. Hal itu benar adanya apabila penggunaan tersebut tidak sesuai dengan prosedur. Dalam penggunaannya kita perlu memperhatikan kondisi korban. Setelah penanganan dengan kompres es, tetap diperlukan adanya tindakan lanjutan dengan membawanya ke dokter, rumah sakit, atau pelayanan kesehatan terdekat.

Demikian artikel yang dapat kami buat. Semoga dapat bermanfaat untuk para pembaca ya. Nantikan artikel kami berikutnya. Salam sehat!

 

 

REFERENSI

Jounal of Athletic Training 2012; 47(4): pg 435-443 by the National Athletic Trainers’ Association dari laman www.nata.org/journal-of-athletic-training

Hot and Cold Treatment for Sprains and Strains dari Canadian Physiotherapy Association pada laman www.physiocanhelp.ca

http://1health.id/id/article/category/tips/benarkah-kompres-es-batu-dapat-redakan-memar-839.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *