[Press Release] KENCAN SEHAT: “MENGENAL DISOSIATIF LEBIH DEKAT”

[Field Report]

Minggu, 10 April 2016

Unit Kesehatan Mahasiswa (UKESMA) divisi Kajian Kesehatan dan Penalaran (K2P) setiap tahun menyelenggarakan acara Kencan Sehat. Tahun ini, Kencan Sehat kembali diselenggarakan dengan tema “Mengenal Disosiatif Lebih Dekat” bertempat di Ruang Sidang 1 Gelanggang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Sekitar 50 orang dengan berbagai latar belakang menghadiri acara ini.

 

Acara:

Kencan sehat kali ini sejatinya dimulai pukul 15.00 WIB, namun karena ada sedikit kendala akhirnya dimulai pada pukul 15.40 WIB. Acara dibuka oleh Riri (DD30) selaku MC. Kemudian diawali dengan sambutan dari Syafrida Putri Yenni selaku Kepala Divisi Kajian Kesehatan dan Penalaran (K2P) UKESMA UGM periode 2015/2016. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dari dr. Ronny Tri Wirasto, Sp. KJ selama 45 menit. Disambung dengan sesi tanya jawab. Pada sesi ini, peserta sangat berantusias untuk bertanya sehingga terjadi diskusi yang sangat seru dan menarik. Pada akhirnya, acara ditutup pukul 16.45 WIB.

 

Disosiatif Disorder

Didalam tubuh kita mempunyai sensor panas, dingin, nyeri sehingga timbullah presepsi. Tetapi presepsi tersebut tidak dapat dideskripsikan. Contoh : presepsi rasa asin. Setiap orang akan beda dalam mendeskripsikan rasa asin itu apa dan bagaimana.

Banyaknya presepsi menimbulkan asosiasi. Terkadang presepsi yang satu dengan yang lain berbeda antar orang. Contoh : manis berasosiasi dengan gula namun ada pula yang menyebutkan manis berasosiasi dengan tebu.

Antara presepsi harus diasosiasikan. Contoh : rasa manis diasosiasikan dengan gula. Jadi ketika kita melihat gula tanpa merasakan gula tersebut kita sudah tahu apabila gula tersebut manis.

Begitu pula dengan rasa panas yang diasosiasikan dengan api. Antar presepsi jika tidak ada kontrol yang kuat dapat menimbulkan disasosiasi. Yang paling sering terjadi adalah disasosiasi masal. Dapat terjadi karena presepsi satu dengan yang lain tidak ada asosiasinya sehingga tidak ada kontrol.

Contoh :

  • Ketika merasa marah tetapi kita tidak mengungkapkan kemarahan tersebut karena kita ada kontrol.
  • Kesurupan masal.

Surup dalam bahasa Jawa berarti “menclok” namun juga dapat berarti waktu pergantian antara siang dan malam atau terang ke gelap. Pergantian tersebut menimbulkan ketidaknyamanan, kegelisahan dan kekhawatiran pada semua makhluk. Berbeda dengan pergantian antara gelap ke terang tidak menimbulkan kekhawatiran. Karena fenomena inilah orang-orang Jawa menyebutnya kesurupan yang berarti kegelisahan.  Kesurupan dalam hal ini ada 3 fenomena yaitu medis biologis, psikologis, dan sosiokultural. Sedangkan kesurupan masal ada 2 fenomena yaitu medis biologis dan psikologis.

Ketika ada cahaya kita akan lebih waspada atau asosiasi kita kuat, tetapi ketika gelap asosiasi akan menjadi lemah. Contoh: ketika siang hari kita akan waspada terhadap lampu merah, yang mana lampu merah kita asosiasikan dengan berhenti. Namun, pada malam hari kita cenderung tidak waspada terhadap lampu merah sehingga banyak orang yang menerobos lampu merah pada malam hari.

Asosiasi dapat ditingkatkan dengan berlatih.

Orang-orang dengan disosiatif tidak terjadi pada lansia. Ketika kita menyuruh lansia cuci tangan sebelum makan agar terhindar dari penyakit cenderung lansia akan menolak karena asosiasi lansia sudah kaku.

Disasosiai dapat terjadi karena masalah biologis, kesehatan, adanya stressor yang besar dan berlangsung lama. Disosiasi dapat bersifat individual dan masal. Adapula disosiasi tubuh, contoh : ketika ada seseorang yang telah berjalan sangat jauh tetapai tidak merasa lelah. Hal ini dikarenakan orang tersebut kehilangan asosiasi antara rasa lelah dan berjalan jauh. Ada pula disosiatif amnesia yaitu hilangnya asosiasi antara waktu dan ingatan dan disosiatif identity yaitu hilangnya asosiasi antara jenis kelamin dan organ kelamin.

 

SESI TANYA JAWAB

Apakah wanita lebih rentan terhadap disasosiatif?

Ya, karena secara epidemiologi jumlah wanita lebih besar dan disasosiasi dapat terjadi karena perasaaan, yang mana wanita lebih perasa.

 

Apakah bawaan disosiatif bersifat bawaan?

Bukan.

 

Cara penangan disosiatif apakah berbeda pada setiap jenisnya?

Berbeda, tergantung kultural. Tetapi apablia disosatif medis biologis semua penangannanya sama. Kalau kesurupan masal penangannannya dengan dipisahkan dan dimasukan pada suatu ruangan yang mana orang tersebut tidak bisa melihat dan mendengar.

 

Kenapa disosiasi masih ditemukan pada ibu-ibu?

Itu bukan merupakan disosiasi medis biologis, maupun psikologis melainkan kultural.

 

Demikian field report acara Kencan Sehat 2016 dari divisi Kajian Kesehatan dan Penalaran. Tunggu field report kami dalam acara lainnya.

 

Semangat tanpa henti untuk memperjuangkan kesehatan!

Salam dari pejuang sehat untuk pejuang sehat lain. Salam Sehat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *