Travelling ke Daerah Endemik Malaria? No More Worries!

Kamu dan empat orang sahabatmu berencana menghabiskan waktu liburan semester genap dengan travelling ke wilayah Indonesia Timur. Kalian berencana memulai perjalanan dengan menaklukkan Gunung Rinjani dan merasakan adrenalin yang melambung saat mencapai puncak Rinjani. Hari berikutnya kalian bertolak ke Gili Trawangan dan menetap disana selama 5 hari. Kemudian, kalian memutuskan untuk berkunjung ke Pulau Komodo dan mengenal lebih dekat hewan purba itu selama 3 hari. Sisa hari libur kalian dihabiskan dengan menikmati keindahan Raja Ampat dari dekat. Tempat-tempat yang kalian kunjungi adalah daerah endemik malaria. Apa yang harus kamu dan sahabatmu lakukan untuk mencegah serangan malaria?

Apa itu Malaria?

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang dapat ditandai dengan demam, hepatoslenomegali dan anemia. Plasmodium hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia. Penyakit ini secara alami ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Setidaknya ada 170 spesies Plasmodium, tetapi hanya empat yang menyebabkan malaria pada manusia.

Jenis Plasmodium yang banyak ditemukan di Indonesia adalah P.falciparum dan P.vivax, sedangkan P.malariae dapat ditemukan di beberapa provinsi antara lain Lampung, Nusa Tenggara Timur, dan Papua. P.ovale pernah ditemukan di Nusa Tengara Timur dan Papua. Jenis Plasmodium ini dapat berdiam di aliran darah tanpa menimbulkan gejala apapun untuk beberapa tahun. Pada tahun 2010 di Pulau Kalimantan dilaporkan adanya P.knowlesi yang dapat menginfeksi manusia dimana sebelumnya hanya menginfeksi hewan primata/monyet dan sampai saat ini masih terus diteliti.

Bagaimana mencegah serangan Malaria?

Advisory Committee for Malaria Prevention (ACMP) menyebutkan bahwa travellers yang berkunjung ke daerah endemik pada saat musim hujan lebih berisiko terkena malaria dibanding travellers yang datang diluar musim hujan. Travellers yang berkunjung ke daerah endemik dalam waktu lama lebih berisiko terkena malaria daripada travellers yang berkunjung dalam waktu singkat.  Disamping itu, terdapat penelitian yang menyebutkan insidensi malaria di daerah pedesaan lebih tinggi daripada di daerah perkotaan. Berdasarkan karakteristik dan kebiasaan vektor malaria, nyamuk Anopheles, berikut ini 7 tips untuk mencegah serangan malaria saat travelling.

  1. Cegah gigitan nyamuk dengan mosquito repellents

           Advisory Committee for Malaria Prevention (ACMP) merekomendasikan penggunaan DEET dengan konsentrasi diatas 20% sebagai mosquito repellent. DEET (N,N-diethyl-m-toluamide) telah digunakan lebih dari 50 tahun oleh setidaknya 200 juta penduduk dunia setiap tahunnya. Hal ini didukung pula oleh penelitian yang menunjukkan bahwa DEET memiliki risiko adverse effect yang relatif rendah. Penggunaan DEET tidak direkomendasikan untuk bayi dibawah usia 2 bulan. Alternatif mosquito repellent lainnya adalah PMD (p-methane-3,8-diol), 3-ethylaminopropionat, dan minyak atsiri citronella.

  1. Gunakan insektisida

Insektisida seperti permethrin dan pyrethroid sintetik lainnya berguna untuk mengeliminasi nyamuk yang berada dalam ruangan.

  1. Gunakan kelambu

Penggunaan kelambu sangat penting terutama untuk travellers yang melakukan aktivitas outdoor pada malam hari  atau berkemah. Penggunaan kelambu yang telah diimpregnasi dengan pyrethroid (insektisida) meningkatkan efektivitas kelambu dalam menangkal gigitan nyamuk.

  1. Pakailah pakaian yang melindungi dari gigitan nyamuk

Gunakanlah pakaian berlengan panjang dan dapat melindungi tubuh dari gigitan nyamuk. Tidak ada bukti yang menjelaskan bahwa warna pakaian berhubungan dengan gigitan nyamuk. Sebagai alternatif, pakaian dapat di-spray dengan DEET yang berperan sebagai repellent pada pakaian namun durasinya pendek dikarenakan volatilitas DEET.

  1. Sedapat mungkin hindari keluar rumah saat senja hingga fajar

Berada di luar rumah pada saat senja hingga fajar meningkatkan risiko terinfeksi malaria.  Hal ini disebabkan nyamuk Anopheles betina senang menggigit pada saat-saat tersebut.

  1. Room protection

Apabila memungkinkan, menginaplah di penginapan yang ber-AC. Suhu optimal untuk transmisi parasit adalah sekitar 20-30 °C. Transmisi malaria tidak terjadi pada suhu dibawah 16°C. Hal ini menjelaskan mengapa backpacker yang bermalam di penginapan tanpa AC lebih rentan tertular parasit malaria daripada turis yang menginap di hotel ber-AC. Disamping itu, transmisi parasit malaria juga tidak terjadi di daerah dengan ketinggian lebih dari 2000 meter atau lebih dari 2500 meter untuk beberapa negara.

  1. Kemoprofilaksis malaria

Dikenal dua jenis kemoprofilaksis malaria :Profilaksis kausal

a. Profilaksis jenis ini bertujuan menghambat perkembangan parasit di hati dan eritrosit manusia serta dalam tubuh nyamuk (sporontosidal), sehingga tahap infeksi eritrosit dapat dicegah dan transmisi lebih lanjut dapat dihambat. Obat yang digunakan untuk rofilaksis kausal adalah obat golongan inhibitor DHFR (dihidofolat reduktase timydilat sintetase), seperti pirimetamin, proguanil, dan klorproguanil.

b. Profilkasis supresif

Profilkasis jenis ini bertujuan menghambat perkembangan stadium aseksual pada eritrosit tetapi tidak di hati. Obat-obat yang dipakai untuk profilaksis supresi mempunyai aktivitas gametosidal terhadap P.vivax, P.malariae, dan P.ovale, tetapi tidak terhadap P.falciparum. Contohnya adalah klorokuin, amodiakuin, dan yang terbru, meflokuin.

Pemilihan obat kemoprofilaksis didasarkan pada kondisi travelers dan karakteristik parasit Plasmodium yang terdapat pada daerah tujuan.

 

Dengan tips diatas, kamu dan sahabatmu bisa lebih enjoy buat travelling ke daerah endemik malaria. Happy holiday! (Asninda/DD30)

 

Referensi:

Dirjen PP&PL, 2008, Pedoman Penatalaksanaan Kasus Malaria di Indonesia, Depkes RI, Jakarta.

Freedman, David O, 2008, Malaria Prevention in Short-Term Travellers, New England Journal of Medicine 359 : 503-12

PHE Advisory Committee for Malaria Prevention, 2015, Guidelines for Malaria Prevention in Travellers from UK 2015, PHE Publisher, London.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *