DEPRESI

Gangguan jiwa merupakan masalah kesehatan yang meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu gangguan jiwa yang umum adalah depresi. Depresi merupakan salah satu gangguan jiwa yang memiliki persentase besar di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2007, angka rerata gangguan emosional (depresi) pada penduduk usia > 15 tahun adalah 11,6% atau sekitar 19 juta penduduk. Depresi mayor yang biasa disebut depresi klinis, gangguan afektif mayor, gangguan mood unipolar yang tidak ditangani akan mengarah pada kerusakan fungsi harian yang serius dan bunuh diri. Peneliti meyakini bahwa lebih dari 50% orang yang mati karena bunuh diri mengalami depresi. Depresi adalah penyebab utama kecacatan di seluruh dunia. WHO menyebutkan bahwa depresi adalah kontributor ke-empat beban penyakit dunia dan pada tahun 2020 diprediksi akan menjadi kontributor ke-dua. Oleh karena itu, deteksi depresi sedini mungkin sangat diperlukan agar dapat menentukan diagnosis dan pengobatan yang tepat sehingga dampak depresi bisa ditekan (Duckworth & Shelton, 2012)

Depresi adalah suatu keadaan emosi yang tidak menyenangkan dan dangkal (low mood) sebagai akibat dari pengaruh peristiwa yang tidak diharapkan, dimana manifestasi gejalanya dapat bersifat ringan hingga pada tingkat yang berat. Depresi ditandai dengan trias depresi, yaitu kesedihan berkepanjangan, motivasi menurun, aktivitas menurun. Orang yang mengalami depresi seringkali mengalami kemurungan, keleluasaan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan lain sebagainya (Hawari, 2001). Depresi mempengaruhi seluruh tubuh, dengan mengganggu kesehatan mental, kesehatan fisik, rasa dan perilaku pada aktifitas yang biasa dilakukan (Copel, 2007).

 

PENYEBAB DEPRESI

Kurangnya aktivitas fisik merupakan salah satu penyebab depresi. Aktifitas fisik merupakan terapi yang dapat digunakan untuk menurunkan tingkat depresi. Penelitian menyebutkan bahwa aktivitas fisik dapat meningkatkan status kesehatan mental seseorang (Warburton & Nicol & Bredin, 2006).

Wilkinson (1995), menyatakan bahwa depresi disebabkan oleh beberapa faktor. Selain itu, peristiwa hidup yang tidak menyenangkan dan penyakit fisik tertentu mempermudah serangan depresi. Hal ini disebabkan karena pengaruh psikologis dan biokimia. Faktor penyebab depresi antara lain :

  1. Faktor genetik

Keluarga lapis pertama (anak, kakak, adik dan orangtua) dari penderita depresi berisiko (10 sampai 15%) akan menderita depresi. Sedangkan penduduk pada umumnya hanya berisiko (1 sampai 2%) akan menderita depresi. Jadi, terlihat bahwa individu yang memiliki keluarga depresi memiliki risiko lebih besar terkena depresi. Davison (2004) menjelaskan bahwa orangtua yang depresi akan menimbulkan efek negatif pada pola asuh yang berdampak pada perkembangan jiwa anak. Hal inilah yang nantinya akan membuat individu yang berasal dari keluarga yang orangtuanya menderita depresi berpeluang untuk menjadi depresi.

  1. Faktor behavioral

Kurang pengalaman sosial atau ketidakpuasan hubungan, baik dengan keluarga, teman, dan lingkungan. Individu biasanya merasa ditolak dan tidak dapat menikmati hubungan sosial dalam lingkungannya. Hal ini dapat menyebabkan individu mengalami depresi.

  1. Faktor kognitif

Individu yang menderita depresi merasa tidak berdaya dan mengalami distorsi kognitif. Individu juga selalu menyalahkan diri sendiri. Pada orang depresi ditemukan adanya perubahan dalam jumlah hormone, yaitu penurunan hormon noradrenalin yang memegang peranan utama dalam mengendalikan otak dan aktivitas tubuh.

  1. Stres

Kematian orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, pindah rumah atau stres berat yang lain dapat menyebabkan depresi. Reaksi terhadap stres seringkali ditangguhkan dan depresi dapat terjadi beberapa bulan sesudah peristiwa itu terjadi.

  1. Dampak psikis dari penyakit fisik

Orang yang menderita penyakit fisik yang berat seperti penyakit kronis (kanker, sirosis hepatitis, HIV/AIDS) atau kondisi kelumpuhan yang lama. Hal tersebut memungkinan individu mengalami depresi (Dewi et al., 2004)

 

KARAKTERISTIK DEPRESI

American Psychiatric Association’s Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition (DSM-IV) adalah referensi terbaru yang digunakan tenaga kesehatan untuk mendiagnosa gangguan mental misalnya depresi. Dalam DSM-IV, depresi diklasifikasikan dalamn gangguan suasana hati. Kriteria DSM-IV untuk mendiagnosis depresi antara lain :

  1. Suasana hati yang menyedihkan (merasa sedih dan hampa).
  2. Menurunnya minat untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan.
  3. Perubahan nafsu makan atau berat badan (naik atau turun).
  4. Mengalami gangguan tidur (tidak bisa tidur dengan optimal atau terlalu banyak tidur).
  5. Merasa gelisah dan khawatir.
  6. Kelelahan atau penurunan energi.
  7. Merasa tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan.
  8. Susah untuk berpikir, berkonsentrasi, atau susah untuk mengambil keputusan.
  9. Berpikir atau bermaksud untuk bunuh diri, percobaan bunuh diri.

Diagnosa karakteristik depresi dapat dibagi dalam beberapa kategori, yaitu : gejala mood atau afektif, gejala perilaku termasuk menarik diri, gejala kognitif termasuk susah berkonsentrasi dan membuat keputusan, serta gejala fisik atau somatik termasuk gangguan tidur.

 

GEJALA DEPRESI

Gejala dari depresi klinis biasanya menunjukkan perubahan signifikan dari fungsi diri. Terkadang, dia menjadi sangat rendah diri dan putus asa, kematian terlihat lebih baik dari pada hidup. Perasaan itu dapat mengarah pada ide melakukan bunuh diri, mecoba mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Tanda-tanda dari major depresi antara lain :

  1. Perubahan pola tidur.

Beberapa orang mengalami sulit tidur, sering terbangun sepanjang malam,dan bangun lebih awal dari yang diinginkan di pagi hari. Pada penderita lain, intensitas tidur lebih lama dari biasanya.

  1. Perubahan nafsu makan.

Penderita depresi mengalami penurunan nafsu makan dan terkadang terlihat penurunan berat badan. Beberapa penderita makan lebih banyak dari biasanya yang menyebabkan kenaikan berat badan.

  1. Konsentrasi yang buruk.

Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi dan atau membuat keputusan adalah hal yang menakutkan dalam depresi. Selama depresi berat, banyak orang tidak bisa mengikuti alur saat membaca sebuah artikel sederhana di koran atau memahami plot dari acara TV. Penderita depresi juga tidak bisa mengambil keputusan penting. Hal ini menyebabkan penderita depresi seolah-olah mereka benar-benar kehilangan pikiran mereka.

  1. Kehilangan energi.

Hilangnya energi dan kelelahan mendalam sering mempengaruhi orang yang hidup dengan depresi. Sehingga seringkali melakukan tindakan dengan lambat.

  1. Kurangnya minat.

Selama depresi, orang merasa sedih dan kehilangan minat dalam kegiatan yang biasa dilakukan. Bahkan mungkin mengalami kehilangan kenikmatan dalam melakukan sesuatu, misalnya makan dan seks. Kegiatan yang menyenangkan terasa membosankan dan tidak menguntungkan.

  1. Harga diri rendah .

Selama periode depresi, orang memikirkan kenangan buruk atau kegagalan serta merasa bersalah yang berlebihan dan tidak berdaya. Pikiran seperti “Saya pecundang” atau “Dunia adalah tempat yang mengerikan” dapat meningkatkan risiko bunuh diri. Hal tersebut tentu sangat membahayakan.

  1. Putus asa atau perasaan bersalah.

Gejala-gejala depresi sering datang bertubi-tubi sehingga menghasilkan perasaan putus asa yang mendalam.

  1. Perubahan pergerakan.

Orang yang mengalami depresi dapat benar-benar terlihat “melambat” dan kehabisan energy fisik atau sebaliknya, sangat aktif dan gelisah. Misalnya, orang yang depresi bisa terbangun sangat awal di pagi hari dan mondar-mandir selama berjam-jam.

 

TINGKAT DEPRESI (DSM-IV)

Depresi mayor dapat diklasifikasikan menjadi tingkat ringan, sedang atau berat (Calaghan, 2004)

  1. Tingkat mild (ringan): beberpa grjala luar minimum yang diperlukan untuk membuat diagnosis.hanya cacat ringan, masih memiliki kapasitas untuk berfungsi secara normal tetapi denga usaha yang cukup besar dan tidak biasanya.
  2. Tingkat moderate (sedang): Lebih dari kriteria minimum yang terpenuhi. Gangguan fungsional yang lebih besar.
  3. Tingkat severe (parah): sebagian besar kriteria ini ditandai gangguan fungsi sosial dan atau pekerjaan, kecacatan yang dapat diamati (misalnya ketidakmampuan untuk bekerja atau untuk merawat anak-anak). Dalam keadaan ekstrim, penderita mungkin benar-benar tidak dapat berfungsi secara social, atau bahkan tidak mampu untuk makan dan berpakaian sendiri, atau untuk menjaga kebersihan diri. Sifat gejala (misalnya keinginan bunuh diri dan perilaku) juga harus dipertimbangkan dalam menilai tingkat keparahan (Kroenke & Robert, 2002).

 

PENATALAKSANAAN DEPRESI

Penanganan depresi dapat dilakukan dengan terapi farmakologis maupun non farmakologis. Di Inggris, obat-obatan tetap yang paling sering pengobatan digunakan untuk depresi (Hale, 1997), namun pasien sering melaporkan bahwa mereka tidak ingin obat (Scott, 1996). Banyak obat juga memiliki efek samping yang tidak menyenangkan seperti kelelahan, komplikasi kardiovaskular, bahkan kecanduan (Martinsen , 1990).

Terapi nonfarmakologis untuk menangani depresi salah satunya adalah aktivitas fisik. Aktivitas fisik memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas hidup orang-orang dengan penyakit mental serius melalui dua cara, yaitu dengan meningkatkan kesehatan fisik dan dengan mengurangi gangguan kejiwaan dan kecacatan sosial.

Aktivitas fisik seperti olahraga juga bermanfaat untuk menurunkan depresi dengan mengubah rutinitas sehari-hari, meningkatkan interaksi dengan orang lain, membantu menurunkan berat badan, berpartisipasi dalam rekreasi di alam terbuka, dan menguasai kesulitan fisik dan psikologis. Penelitian yang menunjukkan bahwa latihan dapat meningkatkan sekresi neurotransmitter seperti serotonin (Ransford, 1982; Morgan, 1985). Latihan juga merangsang sekresi morphines endogen (endorphin) dan menghasilkan keadaan euforia (Pert & Bowie 1979). Olahraga secara konsisten mempengaruhi suasana hati dan kesejahteraan psikologis. Olahraga berperan dalam mengurangi isolasi sosial bagi orang-orang dengan penyakit mental serius.

Melpomene Institute melakukan survei kepada lebih dari 600 anggota mereka tentang bagaimana pengaruh aktivitas fisik. Empat puluh persen wanita melaporkan manfaat mental yang subyektif, dengan 20% manfaat positif . Manfaat mental yang dikutip termasuk pengurangan stres, relaksasi, sikap yang lebih baik, perbaikan outlook, dan kesejahteraan mental. Meta-analisis menyimpulkan bahwa latihan mungkin sama efektifnya dengan psikoterapi namun lebih efektif daripada intervensi perilaku lain (Craft & Landers, 1998; Utara et al, 1990) untuk menurunkan depresi.

Sekian artikel sehat kali ini, semoga bermanfaat untuk para pejuang sehat. Salam sehat! (Siwi/DD30)

 

REFERENSI

  1. Departemen Kesehatan RI. 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar. Jakarta : Depkes RI.
  2. Duckworth, Ken; Richard Shelton. 2012. Depression. National Alliance on Mental Illness.
  3. Warburton DE, Nicol CW, Bredin SS. 2006. Health Benefits of Physical Activity: The Evidence. CMAJ 2006; 174: 801–809.
  4. Kroenke, Kurt; Robert L. Spitzer. 2002. The PHQ-9: A New Depression Diagnostic and Severity Measure. Psychiatricannals 32 : 9 / september 2002.
  5. Dewi, Fransisca I.R.; Vonny Djoenaina; Melisa. 2004. Hubungan antara Resiliensi dengan Depresi pada Perempuan Pasca Pengangkatan Payudara (Mastektomi). Jurnal Psikologi Vol. 2 No. 2, Desember 2004.