Manfaat Cokelat Bagi Kesehatan Tubuh

Disadur dari:

Sudibyo, Agus. 2012, Peran Cokelat sebagai produk pangan derivat kakao yang menyehatkan, Balai Besar Industri Agro (BBIA), Bogor : Jurnal Riset Industri Vol. VI No. 1, 2012, Hal 23-40

Telah berlalu dua event besar untuk saling berbagi cokelat pada tahun ini: Valentine Day (14 Februari) dan White Day (14 Maret). Jadi seberapa banyak cokelat yang telah dibagi, diterima maupun dimakan? Atau ada yang masih disimpan rapi belum dibuka karena dianggap terlalu berharga atau malah takut gemuk dan jerawatan kalua memakannya? Sebaiknya kawan-kawan perlu menepis dan mulai meresapi lezatnya cokelat setelah kalian membaca artikel sehat dari UKESMA kali ini!

Cokelat adalah salah satu produk pangan olahan derivat dari biji kakao/Theobroma cacao (Linneaus) yang diketahui sebagai sumber senyawa fitokimia (procianidin, flavonoid; yang masuk sub-kelompok senyawa polifenol, katekin, dan epitakin) tinggi yang diketahui bermanfaat bagi kesehatan manusia. Kuantitas dan Kualitas antioksidan di dalam coklat sangat tinggi dan senyawa flavonoid yang terkandung di dalamnya dapat mengurangi gugus radikal bebas dalam tubuh. Cokelat merupakan produk pangan olahan dengan komposisi bahannya dari pasta, gula, lemak kakao, dan beberapa jenis tambahan citarasa maupun tekstur seperti kacang-kacangan (Kelishadi, 2005).

Cokelat kaya akan senyawa fenolik sebagai salah satu sumber konsentrat senyawa flavanol, befungsi sebagai antioksidan alami yang dipercaya dapat mengurangi penyakit cardiovasculer, juga bersifat; antioksidan, antiradikal, dan antikarsinogenik (Ren et al., 2003; Sanbongi et al., 1998; Wollgast dan Anklam, 2000). Hasil penelitian Osawa et al. (1990) menunjukkan bahwa senyawa afenolik pada kakao juga mempunyai  sifat antimikroba yang ampuh melawan bakteri pangan bahkan beberapa bakteri yang bersifat karsinogenik, senyawa bioaktif ini mampu menembus dinding sel bakteri dan mempengaruhi kemampuan absorbsi dan metabolisme. Senyawa fenolik dalam kakao memiliki beberapa kelas molekul yaitu: Katekin, Epitakin, Anthosianin, Pro-Anthosianidin, Asam Fenolik, Tannin terkondensasi, Flavonoid lain dan beberapa komponen minor lainnya (Sanchez-Rabaneda et al., 2003).

Telah sejak lama (abad 16-17) cokelat diperlakukan sebagai obat oleh masyarakat Amerika Tengah dan Selatan juga Eropa. Perkembangan cokelat berawal dari biji kakao yang ditumbuk dan langsung dilarutkan air untuk diminum, perlahan biji kakao tadi mulai diolah lebih kompleks dan lezat Kemudian berkembang minuman hasil produk olahan kakao yang bermanfaat bagi kesehatan sekitar tahun 1850 sampai 1900-an (Keen, 2001).

Berikut potensi keunggulan cokelat dan produk olahan kakao lainnya bagi kesehatan manusia:

1-Sebagai sumber yang kaya Antioksidan

Cokelat kaya akan antioksidan dalam bentuk senyawa katekin & epikatekin (dikenal sebagai senyawa flavanol monomerik), procianidim (flovanol oligometrik yang ada di produk olahan kakao dalam kisaran luas), dan polifenol. Senyawa antioksidan alami tersebut dapat mengurangi sejumlah radikal bebas dan menyediakan pertahanan terhadap serangan ROS/reactive oxygen species (Visioli et al., 2000). Nilai Kapasitas Absorben Radikal Oksigen (KARO) per 100 gram dark chocolate adalah 12.120 sedangkan pada milk chocolate sebesar 6.740, enam kali lipa tlebih besar dari brokoli (Kelishadi, 2005). Epitakin sendiri merupakan senyawa polifenol yang banyak ditemukan pada coklat dalam jumlah besar, memiliki kemampuan menghambat proses oksidasi plasma lemak/lipid dengan mengikat LDL yang tidak baik bagi kesehatan, menghambat terjadinya atherosclerosis, dan meningkatkan HDL serta menurunkan kadar trigliserida dalam tubuh manusia (Vinson et al., 2006).

2-Menurunkan tekanan darah dan memperkuat aliran darah

Mekanisme untuk menurunkan tekanan darah dan memperkuat aliran darah adalah dengan interaksi senyawa flavanol dengan sistem biologis dapat meningkatkan kemampuan bioavabilitas nitrat oksida (NO) sebagai berikut:

Pertama, penandaan sel insulin yang berada di tengah-tengah, insulin dapat memodulasi beberapa penandaan molekul termasuk pengaturan sinthase NO (Sowers, 2004).

Kedua, peng-kodean sel antioksidan yang ada di tengah, karena flavanol dapat memodulasi tekanan oksidatof dan menjaga sel redoks, memutar secara pasti kemampuan NO dan akitifitas pengaturan sinthase NO (Mackenzie et al., 2004).

Ketiga, mencakup sustemrenin-angiotensin melalui inhibisi dari permukaan enzim angiotensin

3-Anti (menghambat) kanker

Senyawa prolifenol pada cokelat dapat menghambat kematian sel oleh apoptosksis, baik karena membengkaknya jaringan sel kanker usus (Carnesecchi et al., 2002) maupun jaringan sel kanker payudara (Kozikowski et al., 2003).

4-Mencegah dan mengurangi penyakit Diabetes

Hasil penelitian yang dilakukan Grassi et al., (2004) di Universitas L’Aquila, Italia, melaporkan bahwa diet 100 gram cokelat gelap yang kaya flavanoid tiap hari dapat menurunkan tingkat glukosa dalam darah, menurunkan tingkat resistensi insulin, serta meningkatkan sensitifitas insulin. Meningkatnya insulin diduga akibat pengaruh metabolisme nitrat oksida (NO) dan fakta bahwa produk olahan kakao kaya akan mineraal Chromium yang berpengaruh pada ketepatan fungsi insulin.

5-Menjaga sistem kekebalan (imunitas) tubuh

Saluran limpa atu ductus lien merupakan salah organ imunitas penting, memproduksi sel membrn bersifat permeable yang berisi asam lemak tidak jenuh jamak tinggi yang bersifat sangat sensitif akan peroksida lemak atau lipidanya (Kelishadi, 2005). Ketidakseimbangnya imunitas akan berakibat pada kelebihan produksi senyawa oksigen radikal dan peroksida yang dapat menyebabkan inflamasi akut. Tetapi hal ini dapat dicegah dengan kandungan antioksidan pada cokelat yang terbukti dapat menjaga fungsi imunitas serta mencegah timbulnya infeksi dan penyakit imunitas.

6-Memperkuat resistensi tubuh terhadap hemolisis

Hasil penelitian dan evaluasi penghambatan senyawa flavon (-) epikatekin dan (+) katekin serta procianidin oligomer dalam kakao terhadap hemolisis eritrosit tikus menunjukan membran lebih mampu melindungi dan memperkuat resistensinya terhadap hemolisis (Weisburger, 2001).

7-Memperbaiki Kinerja Kemampuan berpikir Kognitif

Saat tubuh aktif bermetabolisme dan banyak organ menggunakan oksigen, otak secara khusus akan mudah menerima gugus radikal bebas yang rusak, berimpilkasi pada kemampuan kognitif dan kehilangan memori di usia lanjut yang diebut alzheimer (Alspach,2007).

8-Mencegah terjadinya karies (karang) gigi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa polifenol dari kakao dapat menginaktifkan enzim yang mengkatalis produksi poli-sakarida dari gula-suatu bahan yang mengencangkan dental plaque pada gigi (Gravenmade dan Jenkins, 1986). Diperkirakan kandungan flavonoid dari produk coklat yang tinggi flavonoid (± 4 mg procianidin per gram) untuk melawan/mencegah gigi karies yang akut adalah 38 gram sedangkan untuk yang kronis 125 gram (Kelishadi, 2005).

9-Anti hipertensi

Konsumsi minuman kakao (Fisher et al., 2003) atau sejumlah kecil dark chocolate dapat memperbaiki sistem aliran dilasi darah (pengukuran terhadap kemampuan pembuluh arteri menjadi rileks dan mempercepat akomodasi aliran darah) karena mempengaruhi sel endhotelium vascular untuk dilatasi vascular canal; tetapi tidak dapat menurunkan tekanan darah secara langsung (Adams, 2004). Dibutuhkan sekitnya 100 gram per hari cokelat gelap kaya flavanol untuk dapat menurunkan tekanan darah baik pada subyek hipertensif (Taubert et al., 2005; Grassi et al., 2005) maupun normotensif (Grassi et al., 2005).

 

10-Mencegah Atherogenesis

Cokelat mengandung 30 % lemak terutama lemak kakao yang terdiri dari 60% asam lemak jenuh (35% asam stearat dan 25% asam palmitat) dan sekitar 40% asam lemak tidak jenuh terutama oleat (Osakabe et al., 1998). Lemak coklat dalam bentuk lemak trigliserida stearat dapat meningkatkan HDL (Wan et al., 2001). Pengaruh atherogenik dari lemak kakao dapat terlihat dari fakta bahwa 76% Asam lemak pada lemak kakao merupakan senyawa yang tersusun dari C18 atau dalam ikatan C yang lebih panjang daripada yang dimiliki minyak kelapa sawit (Kris-Etherton et al., 1993).

 

Kelemahan dan kendala Cokelat sebagai produk pangan untuk kesehatan:

1-Proses pengolahan menurunkan jumlah kandungan senyawa Flavanoid

Sejumlah tahap pengolahan kakao untuk membantu mngurangi rasa sepat dan pahit justru menurunkan kandungan senyawa flavonoid-nya. Makin banyak dan kompleks tahap pengolahan yang dilalui, makin banyak kandungan flavonoid-nya yang hilang (De Noon, 2003).

2-Proses fermentasi menurunkan kandungan Polifenol

Makin gelap warna cokelat akan makin bermanfaat bagi kesehatan, karena berarti makin tinggi senyawa prolifenolnya-yang hanya ditemukan pada kakao bukan pada bahan tambahan lain pada cokleat (Alspach, 2007). Tetapi sayangnya proses fermentasi yang menjadi langkah penting dalam pengolahan coklat menurunkan konsentrasi prolifenol dan tannin secara drastis, karena munculnya enzim proilfenol oksidase yang mulai bekerja dari tahap fermentasi hingga awal tahap pengeringan (Hansen et al., 1998).

3-Menyebabkan anak Hiperaktif

Merupakan salah satu produk pangan yang dapat memperkuat pengaruh sindom menjadi anak hiperaktif (Bardoces, 2001).

4-Menyebabkan reaksi alergi/hipersensitivitas

Ditengarai menjadi salah satu produk pangan pemicu gejala alergi kulit yang disebut atopik dermatis (Steinman dan Potter, 1994).

5-Menyebabkan Migraine

Coklat dapat menyebabkan migraine (sakit kepala) karena adanya kandungan asam amino tiramin (Sky, 2005).

6-Penumpukan jaringan adiposa dalam tubuh yang dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan

Berawal dari kalori berlebihan pada produk cokelat manis yang banyak mengandung bahan tambahan terutama pemanis dan lemak untuk meningkatkan cita rasa, dapat menimbulkan penimbungan adiposa untuk cadangan makanan yang bila berlebih menimbulkan obesitas. Kandungan lemak juga dapat meningkatkan produksi sebum oleh kulit yang memicu ruam maupun jerawat.

7-Dosis yang tepat untuk terapi kesehatan belum diketahui

Seberapa dosis menu kakao yang tepat dan pasti untuk terapi kesehatan seperti mencegah hipertensi, penyakit cardiovaculer, maupun kanker belum diketahui (Alspach, 2007). Hasil penelitian the National Insitute for Food & Nutrition for Food & Research, Roma Italia) menyatakan bahwa susu (milk chocolate) dapat menginterferensi dan mengabsorbsi anti-oksidan dari cokleat sedangkan cokelat putih tidak mengandung antioksidan (karena terbuat dari lemak kakao) sehingga kurang bermanfaat bagi kesehatan (De Noon, 2003).

Oleh : Sekarnara Hermawan /DD31