Food-borne Illness

Hingga saat ini, masalah mengenai pangan masih menjadi menjadi isu pokok yang dihadapi oleh berbagai negara di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Salah satu masalah terkait pangan yang belum teratasi baik dan masih menjadi perhatian pemerintah Indonesia yaitu masalah keamanan pangan. Menurut laporan yang berhasil tercatat oleh Badan POM sendiri, sebanyak 1.218 kasus keracunan pangan terjadi di Indonesia pada tahun 2010-2014.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 18 tahun 2012 tentang pangan, keamanan pangan (food safety) adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat menganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, sehingga aman untuk dikonsumsi.
Semua masyarakat berhak untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dan aman. Makanan apabila berasal dari bahan yang tercemar, atau diolah, disimpan, dan disajikan dengan cara yang tidak benar, apabila dikonsumsi dapat menimbulkan berbagai penyakit bawaan makanan (food-borne illness). Salah satu kejadian food-borne illness yang umum dijumpai adalah diare. Menurut laporan WHO, sekitar 70% kasus diare yang terjadi di negara-negara berkembang diakibatkan oleh makanan.
Penyebab utama food-borne illness adalah kontaminasi mikrobia pembawa penyakit (patogen) ke dalam makanan. Makanan yang terkontaminasi tidak terlihat, tercium, atau terasa berbeda dari makanan yang aman, namun menyebabkan sakit bila dimakan. Mikrobia yang sering menyebabkan food-borne illness antara lain bakteri Salmonella, Campylobacter, Listeria and Escherichia coli, virus seperti Hepatitis A dan Norovirus, serta parasit lainnya (WHO, 2015).

Gejala yang umum timbul akibat food-borne illness antara lain mual, muntah, diare (kadang disertai darah), kejang, dan demam, namun gejala yang dialami tiap orang beragam tergantung jenis mikrobia yang mengkontaminasi,. Food-borne illness dapat menyerang siapa saja, namun anak kecil, ibu hamil dan janin, lansia, serta orang dengan kekebalan tubuh yang melemah berisiko lebih tinggi untuk terserang (USDA, 2011).

Mikrobia patogen sendiri dapat mengkontaminasi makanan antara lain melalui :
– Tangan penjamah makanan,
– Lalat;
– Air yang tidak bersih;
– Wadah dan peralatan masak yang kotor;
– Kontaminasi silang dari bahan mentah ke makanan jadi;
– Binatang peliharaan;
– Feses hewan/manusia;
– Habitat asli dari bahan makanan itu sendiri.
(Rahayu, 2017)

Semua pihak dalam masyarakat terlibat dan berperan penting dalam menjamin keamanan pangan untuk untuk mengurangi peluang terjadinya kasus food-borne illness. Produsen wajib memerhatikan sanitasi proses produksi, personal hygiene, dan penerapan cara produksi makanan yang baik (CPMB). Begitu pula hanya pada pemerintah melalui penyusunan peraturan-peraturan mengenai keamanan pangan dan melalui instansi pemerintahan seperti BPOM, Departemen Kesehatan, Pertanian, Peternakan, dan instansi terkait lainnya.
Lantas sebagai mahasiswa/i, apakah yang dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya food-borne illness?
Berikut 5 langkah sederhana menurut WHO (2015) yang dapat kita lakukan :
1. Clean
a. Membersihkan buah dan sayur segar dengan air mengalir
b. Menjaga kebersihan tangan, dapur, talenan, dan alat masak setiap saat

2. Separate
a. Tidak mencampur antara daging mentah dan sayur untuk mencegah kontaminasi silang
b. Menggunakan peralatan berbeda untuk mengolah bahan mentah dan makanan jadi

3. Cook
a. Memasak semua jenis daging dan makanan laut hingga matang
b. Memanaskan kembali makanan sisa hingga matang sebelum dimakan

4. Chill
a. Menyimpan makanan dalam kulkas (suhu <5 oC) setidaknya 2 jam setelah dimasak b. Jangan mencairkan makanan beku pada suhu ruang. Cairkan dalam kulkas, air dingin, atau dengan microwave 5. Safe a. Menggunakan air dan bahan mentah yang segar b. Tidak menggunakan produk pangan yang melewati tanggal kadaluwarsanya Referensi : Anonim, 2012. Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012 Tentang Pangan, Dewan Ketahanan Pangan : Jakarta Rahayu, E.S. 2017. Keamanan Pangan. Diktat Kuliah Keamanan Pangan Fakultas Teknologi Pertanian UGM : Yogyakarta. USDA. 2011. Foodborne Illness: What Consumers Need to Know. Diakses dari www.fsis.usda.gov pada tanggal 12 Oktober 2017. WHO. 2015. Foodborne Illness. Diakses dari http://www.searo.who.int pada tanggal 12 Oktober 2017.