Mengenal Pencegahan Difteri dengan Imunisasi

Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di suatu wilayah terjadi bila dilaporkan terdapat satu saja kasus difteri di wilayah tersebut. Seperti yang kita ketahui, di Indonesia saat ini sedang terjadi banyak kasus difteri.

Langkah utama dalam mencegah difteri adalah dengan melakukan imunisasi. Imunisasi untuk mencegah Difteri sudah termasuk ke dalam program nasional imunisasi dasar lengkap, meliputi: (1) Tiga dosis imunisasi dasar DPT-HB-Hib (Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis-B dan Haemofilus influensa tipe b) pada usia 2, 3 dan 4 bulan, (2) Satu dosis imunisasi lanjutan DPT-HB-Hib saat usia 18 bulan, (3) Satu dosis imunisasi lanjutan DT (Difteri Tetanus) bagi anak kelas 1 SD/sederajat, (4) Satu dosis imunisasi lanjutan Td (Tetanus difteri) bagi anak kelas 2 SD/sederajat, dan (5) Satu dosis imunisasi lanjutan Td bagi anak kelas 5 SD/sederajat.(Nila Farid Moeloek, 2017).

Dalam memberikan imunisasi bagi anak-anak ada hal-hal yang harus diperhatikan. Perhatikan beberapa kondisi anak sebelum memberikan imunisasi. Jika anak mengalami sakit parah pada saat tiba jadwal imunisasi, maka sebaiknya tunggu hingga keadaan anak membaik.  Jangan berikan imunisasi selanjutnya jika anak memiliki kondisi seperti:

  • Setelah 7 hari mendapatkan suntikan, anak mengalami gangguan pada sistem saraf atau otak.
  • Muncul alergi yang cukup mengancam nyawa setelah anak mendapatkan imunisasi.

Segera periksakan ke dokter bila setelah imunisasi, anak mengalami:

  • Demam di atas 40 derajat Celcius
  • Anak tidak berhenti menangis setidaknya selama 3 jam
  • Anak mengalami kejang atau pingsan

Jika ditemukan bahwa anak menunjukkan reaksi yang buruk terhadap vaksin pertusis, biasanya dokter akan memberikan imunisasi TD(tetanus difteri) dan menghentikan pemberian imunisasi DPT(Difteri, pertusis, dan tetanus).

Efek samping dari imunisasi DPT yang dapat muncul antara lain demam ringan, bengkak pada bagian suntikan, kulit pada bagian suntikan menjadi merah dan sakit, anak terlihat lelah, dan anak menjadi rewel. Efek samping tersebut biasanya akan terjadi pada satu hingga tiga hari setelah pemberian vaksin. Sebaiknya gunakan ibuprofen atau acetaminophen (parasetamol) untuk meredakan demam anak. Hindari obat yang mengandung aspirin karena pada sebagian kasus menyebabkan gangguan kesehatan yang bisa mengancam nyawa anak, yaitu kerusakan hati dan otak. Walau sangat jarang terjadi, pemberian vaksinasi DPT dapat menimbulkan kejang, koma, dan kerusakan otak. (anonim, 2017)

Tidak hanya anak-anak saja yang diberi vaksin difteri. Namun orang dewasapun perlu segera mendapatkan vaksin difteri. Orang dewasa yang perlu segera mendapatkan vaksinasi difteri  adalah:

  • Orang yang belum pernah menerima vaksinasi Tdap.
  • Orang yang lupa apakah ia sudah diberikan vaksinasi atau belum.
  • Petugas kesehatan yang melakukan kontak langsung dengan pasien.
  • Orang yang merawat bayi di bawah umur 1 tahun, termasuk orang tua, kakek-nenek, dan pengasuh bayi.
  • Orang yang bepergian ke berbagai wilayah yang termasuk penyebaran difteri.
  • Orang yang tinggal serumah, tetangga, pernah/akan menengok penderita difteri.
  • Calon ibu yang belum pernah melakukan vaksinasi.
  • Ibu hamil (booster Tdap dianjurkan untuk diberikan pada tiap kehamilan).

Setelah vaksinasi dilakukan, pastikan untuk mencatat dan menyimpan data/riwayat imunisasi. Jika pernah mengalami alergi atau kejang setelah kurang lebih 1 minggu setelah vaksinasi, sebaiknya minta dokter untuk mengevaluasi terlebih dahulu kondisi kesehatan sebelum vaksinasi difteri atau vaksinasi kombinasi lain.(dr. Allert Noya, 2017)

Dalam menanggapi kasus difteri ini Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melakukan respon cepat dengan mengadakan ORI atau outbreak response immunization. ORI dilakukan di  12 kabupaten/kota di 3 provinsi di Indonesia yaitu Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Outbreak Response Immunization (ORI) putaran pertama sebagai upaya pengendalian KLB Difteri telah dilaksanakan pada pertengahan Desember 2017. Bulan Januari 2018 ini merupakan jadwal putaran kedua ORI Difteri. Sementara ORI putaran ketiga dilakukan 6 bulan kemudian. ORI Difteri perlu dilakukan 3 kali untuk membentuk kekebalan tubuh dari bakteri corynebacterium diphteriae. (Depkes RI, 2018)

Gambar 1. Pengertian ORI (Kementerian kesehatan RI, 2017)

Bagi orang tua yang memiliki putra dan putri berusia antara 1 tahun sampai kurang dari 19 tahun yang belum mendapatkan vaksin di putaran pertama ORI Difteri, tidak perlu khawatir. Lapor ke petugas kesehatan untuk mendapatkan ORI pertama. ORI putaran kedua segera dilaksanakan di sekolah. Bagi anak yang tidak sekolah, ORI dapat dilakukan di Posyandu, Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya. Pemerintah yakin melalui ORI yang tepat dan sesuai prosedur, KLB Difteri dapat kita kendalikan. Tentu perlu kerjasama dan partispasi kita semua terutama para orangtua yang mempunyai anak-anak serta upaya bersama pemerintah daerah untuk mengambil langkah cepat mengendalikan masalah KLB ini. (Depkes RI, 2018)

 

Sumber :

  • Moeloek, Nila Farid. (2017) Menkes : Difteri Menular, Berbahaya, dan Mematikan, Namun Bisa Dicegah dengan Imunisasi. Tersedia di http://www.depkes.go.id/article/view/17121200002/menkes-difteri-menular-berbahaya-dan-mematikan-namun-bisa-dicegah-dengan-imunisasi.html [Diakses : 13/01/2018]
  • (2017) Imunisasi DPT : Manfaat dan Efek Sampingnya. Tersedia di http://www.alodokter.com/imunisasi-dpt-manfaat-dan-efek-sampingnya [Diakses : 13/10/2018]
  • Noya, dr. Allert. (2017) Pentingnya Vaksin Difteri Untuk Orang Dewasa. Tersedia di http://www.alodokter.com/pentingnya-vaksin-difteri-untuk-orang-dewasa [Diakses : 13/01/2018]
  • Depkes RI. (2018) Ingat, ORI Ada 3 Putaran. Tersedia di http://www.depkes.go.id/article/view/18010800001/ingat-ori-difteri-ada-3-putaran.html [Diakses : 13/01/2018]

Penulis : Andini Retno Astriningrum