Bahaya Abu Erupsi Gunung Api Terhadap Kesehatan Pernapasan

Indonesia adalah negara yang kaya akan Sumber Daya Alam. Salah satu kekayaan alam Indonesia yaitu banyaknya gunung api aktif yang ada di Indonesia yang membentang dari Pulau Sumatera, Pulau Jawa dan berbelok ke Utara menuju pulau Sulawesi, sehingga Indonesia dijuluki sebagai ‘Lingkaran Api’ atau ‘Ring of Fire’. Secara umum, definisi gunung api merupakan bentuk timbunan kerucut dan lainnya yang ada dipermukaan bumi yang dibangun oleh timbunan lelehan letusan, atau tempat munculnya batuan lelehan lepas yang berasal dari bagian dalam bumi (Wittiri,2014). Gunung Api memiliki akar yang jauh di dalam perut bumi ( lebih dari 200 km ), olah karena itu banyak fenomena yang sulit dipecahkan melainkan merupakan hasil mereka- reka dan analisis.

Mengapa gunung api bisa meletus? Secara umum meletusnya gunung api mengikuti prinsip fisika, dimana suatu benda panas panas yang berada pada lingkungan yang lebih dingin, maka benda tersebut cenderung akan bergerak vertikal. Magma yang terbentuk dikedalaman lebih dari 10.000 meter akan memiliki temperatur diatas 1.2000C dalam wujud Liquid antara cair dan padat, apabila tekanan di bagian permukaan berkurang, maka magma akan bergerak menuju ke permukaan menyebabkan retakan, biasanya disertai dengan gempa vulkanik dan membentuk pipa kepundan, jika suatu saat tekanan magma meningkat, maka magma bisa menerobos batuan penutup dan terjadi letusan gunung api (Wittiri,2014).

Material hasil letusan gunung api salah satunya yaitu abu vulkanik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa abu vulkanik mengandung unsur mayor (aluminium, silika, kalium dan besi), unsur minor (iodium, magnesium, mangan, natrium, pospor, sulfur dan titanium), dan tingkat trace (aurum, asbes, barium, kobalt, krom, tembaga, nikel, plumbum, sulfur, stibium, stannum, stronsium, vanadium, zirconium, dan seng). Sedangkan lima komposisi kimia tertinggi dari tanah abu vulkanik gunung berapi secara urutan adalah silikon dioksida 55%, aluminium oksida 18%, besi oksida 18%, kalsium oksida 8%, dan magnesium oksida 2,5% ( Suryani,2014).

Dampak bagi Kesehatan

Abu vulkanik selain berdampak langsung di lokasi bencana juga berdampak ke wilayah sekitarnya yang lebih luas. Menurut The International Volcanic Health Hazard Network, secara umum abu vulkanik menyebabkan masalah kesehatan khususnya menyebabkan iritasi pada paru-paru, kulit dan mata. Seperti diungkapkan Pulmonologist, dr. Ceva Wicaksono Pitoyo, SpPD,KP FINASIM, bahwa, secara kasar, abu vulkanik itu seperti abu semen (batuan kecil dan halus) yang terlempar ke atas. Beberapa komposisi kimia yang dihasilkan erupsi tersebut, seperti karbon dioksida (CO2), sulfur oksida (SO2), hidrogen dan helium (He), yang pada konsentrasi tertentu menyebabkan sakit kepala, pusing, diare, bronchitis (radang saluran nafas), bronchopneumonia (radang jaringan paru), iritasi selaput lendir saluran pernafasan, iritasi kulit, serta mempengaruhi gigi dan tulang. Gangguan kesehatan ini bisa akibat paparan akut jangka pendek atau dalam beberapa hari dan jangka panjang dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan (Suryani,2014). Gejala pernapasan akut yang sering dilaporkan oleh masyarakat setelah gunung mengeluarkan abu adalah iritasi selaput lendir dengan keluhan bersin, pilek dan beringus, iritasi dan sakit tenggorokan (kadang disertai batuk kering), batuk dahak, mengi, sesak napas, dan iritasi pada jalur pernapasan. Gangguan ini akan lebih berat bila terkena pada orang atau anak yang sebelumnya mempunyai riwayat alergi saluran napas dan abu vulkanik yang terhirup dapat merangsang peradangan di paru-paru serta luka di saluran napas. Luka ini seperti codet di kulit yang akan menyebabkan luka permanen pada alveolus (paru-paru bawah) yang dalam jangka panjang bisa menyebabkan kanker.

Pada kasus letusan gunung api di Indonesia, gangguan kesehatan berupa infeksi pernapasan, gangguan penglihatan, dan diare menjadi penyakit yang paling banyak dikeluhkan oleh para pengungsi letusan Sinabung dari berbagai usia. Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Karo, pada awal Februari ini dari sejumlah 34.973 pengungsi, yang menderita penyakit gastritis 202 orang, ISPA 790 orang, konjungtivitis 65 orang, diare 84 orang, hipertensi 59 orang, anxietas 13 orang, dan penyakit lainnya 222 orang. Demikian pula dengan dampak letusan Gunung Kelud, sedikitnya 955 orang pengungsi korban ancaman letusan Gunung Kelud di Kabupaten Kediri Jawa Timur, terserang berbagai macam jenis penyakit, 364 orang terserang ISPA, 78 orang hipertensi, disusul berikutnya gatal-gatal dan mialsia (linu-linu). Di Batu, Malang ratusan pengungsi terserang penyakit ISPA. Berdasarkan data dari posko kesehatan di Kantor Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, pada 15 Februari 2014 tercatat lebih dari seratus pengungsi telah berobat dan mengeluh mengalami batuk, sakit kepala, dan gatal-gatal (Suryani,2014).

Upaya Mitigasi Dampak Abu Vulkanik

Bagi masyarakat, untuk menghindari dampak negatif abu vulkanik terhadap kesehatan, menurut Suryani,2014. Perlu memperhatikan hal – hal sebagai berikut:

  1. Berada sejauh mungkin dengan lokasi letusan.
  2. Menghentikan konsumsi air dari sumber air yang telah tercemar.
  3. Mengurangi aktivitas di luar ruangan, rumah harus dalam keadaan tertutup untuk mencegah masuknya abu dan gas ke dalam rumah.
  4. Penggunaan masker adalah hal mutlak dilakukan. Alat perlindungan diri yang lainnya, seperti kaca mata, juga diperlukan untuk mengurangi iritasi abu dengan mata.

 

Peran Puskesmas dalam penanganan Bencana

Dalam penanggulangan bencana, menurut Surat Keputusan (SK) Menteri Kesehatan No. 145/Menkes/SK/112007 tentang Pedoman Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan. Peran Puskesmas mengacu pada tugas dan fungsi pokoknya, yaitu sebagai pusat ( 1) penggerak pembangunan kesehatan masyarakat, (2) pemberdayaan masyarakat dan (3) pelayanan kesehatan tingkat pertama.

Tabel 1. Peran Puskesma pada Tahap Prabencana, saat bencana dan Paskabencana

Penutup

Indonesia sebagai negara yang berada di jalur pegunungan aktif, memiliki beraneka ragam tantangan dan peluang baik dari segi positif maupun negatif. Sisi positif dari ‘Ring of Fire’ yaitu melimpahnya sumber daya alam yang berkaitan dengan gunung api, seperti potensi bahan galian dan logam – logam mulia yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Namun, sisi negatif dari adanya ‘Ring of Fire’ juga perlu diperhatikan, seperti dampak dari erupsi gunung api yang akan merugikan baik dari segi ekonomi maupun segi kesehatan, sehingga perlu adanya upaya tata kota yang baik dan penanganan dampak serta sosialisasi sejak dini tentang penting nya pengetahuan masyarakat akan erupsi gunung api, sehingga bisa mengurangi dampak dari erupsi gunung api. Bencana alam merupakan  proses alam yang tidak bisa diketahui kapan akan datang, namun bisa diprediksi. Peran aktif dari pemerintah dan juga masyarakat dalam upaya mitigasi sangat penting untuk memanfaatkan sumber daya yang ada dengan menimimalkan sisi negatif yang ditimbulkan.

Penulis : Restu Dwi Cahyo Adi (DD 31)

Daftar Pustaka :

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization). 2008. Infection prevention and control of epidemic-and pandemic-prone acute respiratory diseases in health care. WHO Interim Guidelines, June 2007. Jenewa: © World Health Organization 2008.

Suryani, Sri Anih. 2014. DAMPAK NEGATIF ABU VULKANIK TERHADAP LINGKUNGAN DAN KESEHATAN. Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI (ISSN 2088-2351).

Widayatun dan Fatoni, Zainal. 2013. PERMASALAHAN KESEHATAN DALAM KONDISI BENCANA: PERAN PETUGAS KESEHATAN DAN PARTISIPASI MASYARAKAT. Jurnal Kependudukan Indonesia Vol. 8 No.1 Tahun 2013 (ISSN 1907-2902).

Wittiri,S.R.,2014. Mengenal Gunung Api Indonesia. Bandung : Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.